Diposkan pada Frankfurt, Random Thoughts

Je suis Paris

hari ini persis seminggu yang lalu sejak kejadian bom dan penembakan di Paris. isi pemberitaan media massa selalu dipenuhi berita dari Paris, korban dan tersangka teroris. paling terharu itu saat melihat wawancara seorang reporter dengan seorang anak kecil. sang ayah yang menemani anaknya pada wawancara tersebut dengan caranya yang menyentuh pada intinya mengajarkan anaknya untuk tidak melawan kekerasan dengan kekerasan. ah andai saja semua seperti ayah muda ini mesti tidak ada kekerasan di dunia ini…

Je suis Paris
Je suis Paris

Paris berduka, Eropa berduka. jarak Frankfurt dan Paris kurang dari enam jam. efek serangan bom dan penembakan di Paris pun terasa disini, diantaranya adalah pesan untuk menjauhi keramaian. diatas adalah tanda duka yang ditunjukkan oleh Frankfurt pada mesin tiket otomatisnya.

Iklan
Diposkan pada Random Thoughts

dimanakah kamu sepuluh tahun yang lalu?

gehört zu spiegel.de
gehört zu spiegel.de

kurang dari satu jam lagi adalah detik-detik gelombang tsunami menyerang aceh sepuluh tahun yang lalu. untuk saya menjadi momen tersendiri karena  untuk pertama kalinya bertemu dan mengunjungi mertua di jerman.

di hari kedua natal sesudah selesai makan malam terdengar ayah mertua memanggil-manggil dari bawah ada breaking news dari indonesia, tsunami yang meluluh lantakan aceh…

merinding…

gak bisa bilang apa-apa…

mengapa justru aceh yang serambi mekah itu terkena musibah yang sangat berat… banyak hal silih berganti melintas dalam benak saya. kalau suami dan mertua langsung membahas lempengan yang ada dibawah laut. saya ke hal-hal yang lebih gak jelas seperti: apakah Allah marah?? apakah…? … dan pertanyaan-pertanyaan lain yang tidak ada jawabannya…

Diposkan pada Random Thoughts

SoldatenKaffee

SoldatenKaffee? Soldatencafé? Nazi-Café?

baru tau kalau ada café di Bandung yg namanya SoldatenKaffee, gara2 baca koran on-line die Welt kemarin (18/7) ttg Nazi-Café di indonesia .

oh ya sebelum meneruskan saya mau info dulu kalau Kaffee dalam bahasa jerman artinya kopi, sedangkan Soldaten artinya serdadu.

diantaranya dijelaskan kalau didinding café yang terletak di Bandung ini tergantung lambang Nazi, Swastika, dan foto Hitler. dan pelayan café-nya yang mengenakan seragam tentara Nazi, SS. sehingga SoldatenKaffee lebih cocok sbg tempat berziarah Neonazi. tapi pemilik café, Henry Mulyana, meyakinkan kalau dekorasi yang tidak lazimnya ini hanya utk keperluan menarik tamu saja.

café-nya berdiri sejak april 2011 tapi baru diributinnya sekarang.  wakil walikota Bandung, Ayi Vivananda mengirimkan surat kepada pemilik café, Henry Mulyana untuk mengatur pertemuan dan penjelasan soal ini. khususnya menyangkut simbol2 yg secara internasional berhubungan dgn kekerasan dan rasisme. hal mana dibantah pemilik café yang mengaku bukan Neonazi, dan tidak ada niatan membakar kebencian rasial, melainkan hanya utk keperluan menarik tamu lokal maupun turis. Henry Mulyana berkata: „saya pengusaha bukan politikus“. dia berhak mendekorasi café yang cocok dgn seleranya dan oleh sebab itu yakin tidak melanggar peraturan.

artikel aslinya bisa dibaca di tautan ini: http://www.welt.de/vermischtes/article118183205/In-Indonesien-servieren-Kellner-in-SS-Uniform.html

***

SoldatenKaffee

hasil berkunjung ke site SoldatenKaffee, konsep café-nya perang dunia kedua jerman. ditulis juga kalau pemilik web atau bukan Nazi atau neo-Nazi, melainkan hanya ingin mengeksplorasi Hitler dan Nazi-nya sbg bagian dari budaya populer Kaffee

http://www.soldatenkaffee.com/

***

ekplorasi budaya populer?

lain padang lain ilalang.

pengalaman tinggal disini mengatakan orang2 (dan anak2 cucunya) yg menjadi korban selama perang dunia tsb gak akan menikmati atau menghargai pernik2 yg berkaitan dgn Hitler sbg bagian dari seni.

di jerman sendiri seusai perang dunia, Hitler meninggalkan hutang perang, rasa bersalah dan malu. Hitler jadi tema tabu. sampai2 Hitlergrußdi jerman dan di negara dimana Hitler lahir (austria), penghormatan dgn cara merentangkan tangan kanan kedepan dan telapak tangan mengarah kebawah dengan mengucapkan „Heil Hitler“, „Sieg Heil“ atau hanya „Heil“ adalah tindakan terlarang. di jerman larangan ini disertai dgn tindakan hukum. ketentuan hukumnya ada ditautan ini http://www.gesetze-im-internet.de/stgb/__86a.html dan ini http://dejure.org/gesetze/StGB/130.html

ketentuan2 yg sama berlaku utk lambang Nazi, Swastika.

dgn pengecualian pada § 86 Absatz 3, tindakan ini tidak melawan hukum dgn kondisi sbb:

Absatz 1 gilt nicht, wenn das Propagandamittel oder die Handlung der staatsbürgerlichen Aufklärung, der Abwehr verfassungswidriger Bestrebungen, der Kunst oder der Wissenschaft, der Forschung oder der Lehre, der Berichterstattung über Vorgänge des Zeitgeschehens oder der Geschichte oder ähnlichen Zwecken dient.

walau ada pengecualian tetap aja harus hati2 menggunakan salam ini. seniman jerman Jonathan Meese yang dikenal krn keprovokatifannya, masih harus menjalani sidang pengadilan krn dalam sebuah pertemuan yang membahas ttg „Größenwahn in der Kunst“, ybs menentang „Diktatur der Kunst“ dgn melakukan gerakan Hitlergruß ke arah peserta seminar.

http://www.welt.de/kultur/article118188302/Eine-Gerichtsposse-um-seltsame-Grussgepflogenheiten.html

***

menarik turis?

saya kira bakalan salah target kalau dibaca dari potongan surat pembaca di the jakarta post yang ditulis oleh Dominic Stevens, seorang expat yang tinggal jakarta.

saat menulis surat pembaca tsb ditahun 2011, ybs sdh tujuh tahun tinggal di indonesia. judulnya takjub melihat anak2 muda dan metromini2 yang dihiasi lambang swastika. setelah berbicara langsung dgn beberapa, dia jadi ngerti kalau orang2 yg memakai lambang ini tidak punya pengetahuan yg cukup signifikan menyangkut hal ini. anak2 muda yang ditemuinya ini mengaitkan swastika dgn pemberontakan, musik punk atau metal,  mereka bukan aliran keras kanan atau punya kebencian mendalam thd yahudi. judulnya dia bisa terima krn orang2 ini gak punya pengetahuan cukup ttg sejarah eropa.

tapi tidak ketika dia mampir ke SoldatenKaffee

What is disgusting here is that a group of supposedly richer and better-educated Indonesians have opened such a bar, and the level of detail they have gone to suggests quite a lot of research was done. How on earth can they be unaware of how offensive this cafe is to Westerners visiting their country?

surat selengkapnya bisa diunduh ditautan ini http://www.thejakartapost.com/news/2011/03/31/letter-why-do-they-love-swastika.html

***

Swastika

lambang yang aslinya di india berarti pembawa keberuntungan, oleh Hitler diputar dgn kemiringan tertentu.

Diposkan pada Random Thoughts

sebuah persahabatan

„Halt dich an mir fest!“ („pegangan yang kuat ya!“)
„Halt dich an mir fest!“ („pegangan yang kuat ya!“)

„Hallo, willst du mein Freund sein?“ – „Ja, aber nicht meiner Mama petzen. Die hat gesagt, ich darf nicht mit dir spielen.“

„hallo, mau gak jadi teman saya?“ – „mau, tapi jangan bilang2 nyokab ya. kata nyokab saya gak boleh main sama kamu“ :/

„Ich hab dich lieb!“
„Ich hab dich lieb!“

bagaimanakah dengan teman2 blogger? apakah anda termasuk golongan yang menentukan siapa saja yang boleh bermain dengan anak2 anda atau membiarkan anak2 anda mengembangkan kepribadiannya dan belajar menemukan sendiri teman2nya?

sumber: Bild.de (dari sebuah bonbin di cina)