Diposkan pada Travel Story

edisi mudik #2

tidak terlalu banyak yang bisa kami rencanakan selama mudik kali ini, selain harus mengurus pelaporan perkawinan luar negeri, niatnya memang gantian mengurusi ibunda yang sudah sepuh. pun begitu disela-sela kegiatan tersebut apabila memungkinkan kami menyempatkan untuk melakukan sesuatu untuk berdua… salah satunya mengunjungi Pelabuhan Sunda Kelapa, pelabuhan tua yang ada di muara Sungai Ciliwung, yang menjadi tujuan wisata bahari DKI Jakarta.

2015-06-02 (2)

walau udah diniatin sempet dilanda keraguan juga deh karena saya tahu persis walau kawasan pelabuhan yang melayani kapal antar pulau ini sudah direncanakan sebagai kawasan wisata tidak nyaman. dan bener aja saat memasuki kawasan Penjaringan sudah disambut lalu lintas padat, asap knalpot, debu beterbangan, sampah berserakan dan bebauan tidak sedap…Β setelah mencari-cari tempat parkir yang paling dekat dari pintu masuk, kami bertanya kepada petugas yang duduk di pintu jaga. ternyata bisa masuk dari sana dan tidak dikenakan biaya.

2015-06-02 (63)

2015-06-02 (14)

2015-06-02 (17)

2015-06-02 (55)perlahan saat mulai menelusuri pelabuhan dimana kapal-kapal kayu Phinisi bersandar tersebut keraguan saya berangsur berkurang. tidak lama langkah kamipun terhenti oleh sapaan muka-muka gelap ramah dan lugu untuk keliling-keliling naik ojek perahu. jujur aja gak kepikiran untuk menaiki ojek perahu karena bebauan air yang menyengat belum lagi pemandangan sampah dan kotoran manusia. namun setelah berbincang-bincang sejenak dengan bapak-bapak yang belakangan saya ketahui bernama Bahtiar ini, saya berubah pikiran, tidak sanggup menolak tawaran tersebut. tidak tega untuk menidakkan tatapan mata hitam yang kelamnya. setelah diskusi sebentar dengan suami saya menawar dan kemudian mengiyakan tawaran Pak Bahtiar dengan catatan harus menunggu sebentar karena kami mau keliling diatas dulu… keputusan yang tidak saya sesali walau kemudian sempat mengusik perasaan saya.

2015-06-02 (16)setelah puas berkeliling di pelabuhan kami berjalan kembali ke tempat dimana perahu Pak Bahtiar ditambatkan. dari kejauhan terlihat wajah hitam dengan guratan-guratan keras kehidupan di keningnya itu gembira sekali. saat ditanya berapa lama waktu yang diberikan untuk berkeliling, beliau tersenyum dan menjawab terserah kami saja. dibantu oleh Pak Bahtiar dan suami saya berhasil turun dan naik ke atas perahu kayu yang ditambat diantara jejeran kapal Phinisi. keder lho ngebayangin apa kabar kalo perahunya kebalik dan jatuh kedalam air kelam dengan bebabuan tidak sedap itu #huaaaaa

ketika perahu Pak Bahtiar mulai meninggalkan pelabuhan, perahu kecil kami harus melewati jalan sempit diantara kapal-kapal Phinisi yang tengah bersandar. sebelum turun ke perahu saya sudah melihat pancuran air pembuangan dari kapal tesebut dan sempat bertanya apakah itu air dari jamban atau gimana, bisa gak lewat tanpa kita kesirem dsb. si bapak satu ini dengan kalem menjawab -bisa nyah… hahahahahah #salahsendirikognekaaat. ternyata tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan

latar belakang Majid Al-Bahri
latar belakang Majid Al-Bahri

sambil mendayung sambil Pak Bahtiar dengan segala keterbatasannya berusaha memenuhi segala keingintahuan kami.
Pak Bahtiar berasal dari Bone dan umurnya 50-an lebih. beliau tinggal sendiri di kampung nelayan tidak jauh dari jembatan kuning sementara anak dan istri tinggal di kampung. setiap pagi dan sore Pak Bahtiar menyeberangkan pegawai yang tinggal di kampung nelayan dan bekerja di pelabuhan. diantara waktu itu Pak Bahtiar melayani wisatawan yang ingin mengeskplorasi perairan tersebut dan juga melihat dengan mata kepala sendiri kerasnya kehidupan di kampung nelayan Luar Batang.

2015-06-02 (39)

2015-06-02 (35)kalau tidak mau ambruk bambu-bambu yang menopang bangunan-bangunan kayu di kampung nelayan ini harus diganti setiap tiga tahun sekali atau dibangun lebih permanen. ketika ditanya soal air bersih, menurut Pak Bahtiar penduduk kampung Luar Batang mendapat pasokan air bersih dari PAM atau membeli dari pedagang air dorongan. konon pedagang air dorongan ini mendapat pasokan air dari seseorang yang menampung air PAM yang kemudian dijual kepada pedagang air tersebut.

mengumpulkan botol bekas
mengumpulkan botol bekas
memperbaiki jala ikan
memperbaiki jala ikan
boat orang kaya
boat orang kaya
rumah orang kaya
rumah orang kaya
Jembatan Kuning
Jembatan Kuning

menyusuri Kampung Luar Batang dari air jadi bisa menyaksikan dari dekat sebagian kegiatan penduduk yang tinggal di perkampungan nelayan. termasuk bapak-bapak atau ibu-ibu tua yang berusaha menjaring botol-botol plastik yang mengambang, entah dari perahu entah dari bagian belakang rumah mereka. atau mereka yang sedang membetulkan perahu atau jala ikannya… Pak Bahtiar juga menyempatkan untuk menunjukkan boat dan rumah milik orang kaya Kampung Nelayan. coba amati view Jembatan Kuningnya… πŸ™‚

di kanan contoh kapal yang muatannya hampir penuh
di kanan contoh kapal yang muatannya hampir penuh
beras yang siap dikapalkan
beras yang siap dikapalkan

oh ya info yang saya dengar dari Pak Bahtiar kedalaman air yang ada persis didekat pelabuhan adalah sekitar 6 meter. kalau ditengah malah tidak terlalu dalam hanya sekitar dua meteran saja. beliau juga menunjukkan tanda kapal sudah dimuat penuh dan segera diberangkatkan, kapalnya terlihat jadi lebih pendek karena tekanan beban muatan.

2015-06-02 (41)

 

menara Masjid Luar Batang
menara Masjid Luar Batang
wajah Jakarta-ku
wajah Jakarta-ku

setelah beberapa saat bebauan yang mengganggu tadi tidak menjadi pikiran lagi, tercenung menyaksikan kejomplangan kehidupan kampung nelayan dengan penampakan bangunan tinggi di latar belakangnya. nyaman kah orang-orang yang tinggal di atas gedung tinggi memandangi pemandangan seperti ini? atau hanya satu keinginan menunggu waktu hingga perkampungan ini tergusur? seperti halnya objek-objek wisata di Jakarta, sampah dan kebersihan masih menjadi peer utama disini. tanpa campur tangan pemerintah saya yakin tempat ini tidak akan pernah betul-betul bisa terlihat manusiawi.

jalur yang ditawarkan oleh Pak Bahtiar kami selesaikan dalam waktu kurleb 45 menit. pikiran saya entah dimana ketika seperti dari kejauhan mendengar pertanyaan Pak Bahtiar ingin diantar kemana lagi. saya hanya menggeleng pelan dan nyaris berguman mengatakan kalau hari itu sudah cukup untuk kami…. #adasebersitrasabersalahtelahmelakukanwisatakemiskinanini… setelah mengucapkan terima kasih dan menekankan uang lebih kedalam tangan Pak Bahtiar, saya memtuskan untuk meninggalkan Pelabuhan Sunda Kelapa. waktu belum menunjukkan setengah sebelas pagi tapi sengatan matahari benar-benar menggigit dan satu-satunya keinginan pulang ke rumah… #melupakanapayangsayalihatbarusan???

Iklan

25 tanggapan untuk “edisi mudik #2

  1. ya ampun itu bambu2 nya harus diganti tiap 3 tahun biar gak ambruk ya? takut juga ya tinggal disitu kalo ada apa2 tiba2 ambruk gimana? kasian mereka bakalan tinggal dimana?
    pemandangannya kontras banget denga gedung bertingkat dibelakangnya, suami saya waktu ke jkt pernah ngomong mbak, di jkt itu kehidupannya jomplang banget, masa ada gedung mewah disitu tapi lihat dibawahnya ada perkampungan kumuh

    1. iya dhy harus diganti sekali tiga tahun. itu aja rata-rata saya liat udah tinggal nunggu rubuh aja kali ya, rumahnya jadi pada miring-miring gitu…

      memang jomplang baget dhy potret asli negara kita yang kaya banyak banget yang miskin banget jumlahnya lebih gak kira-kira lagi…

      salam
      /kayka

  2. Aduh aku bacanya miris Ka… jadi feel banget sama si Pak Bahtiarnya itu. Langsung liat sekeliling terus bersyukur dengan kepunyaan, nyesel koq suka kesel2 gak jelas sendiri huhuhu. Aku kasih liat Mike dia bilang mau liat pas main ke indo… gak pernah liat kan ada rumah seadanya di atas sungai, hehehe.

    1. bener banget mar. jadi tambah mengerti artinya bersyukur saat melihat hal-hal seperti ini.

      iya mar kalo mudik coba deh mampir kesini. yang cukup bikin kening agak berkerut kog banyakan wisatawan asing daripada wisatawan lokalnya.

      salam
      /kayka

  3. Speechless. Di mana sih semua janji-janji saat kampanye yang akan gembar-gembor itu? Bukannya saya menggampangkan masalah dan menganggap semua yang saya lihat di foto ini bisa hilang sekejap mata ya, tapi sungguh, ini memprihatinkan sekali, dan akan sangat menimbulkan pertanyaan kalau sekian puluh tahun pemerintahan ada di Jakarta tapi masalah ini belum juga selesai. Bagaimana mau mengurusi tempat wisata yang lain, kalau mengurusi tempat hidup yang layak bagi masyarakatnya saja belum bisa? :huhu.

    Antara sedih, bingung, dan geram melihat foto-foto ini. Sungguh, banyak yang mesti dibenahi agar Jakarta bisa jadi kota yang sedikit lebih layak untuk kaum urban terpinggirkan seperti mereka…

    1. masalah prioritas gara. dan ini seperti yang gara tulis masalah ini bukan masalah kemarin.
      masih banyak memang yang harus dibenahi. semua ada prosesnya. kota roma juga gak dibangun dalam semalam. tapi kalo setiap yang kebagian memerintah gak memprioritaskan kesejahteraan penduduk yang keadaannya seperti ini melainkan mensejahterakan orang-orang yang udah sejahtera ya ini ini akibatnya…

      kalo ngliat sendiri beneran sedih dan grrrr lho gar.

      salam
      /kayka

      1. Iya Mbak, memprihatinkan banget. Kayak selama ini tuh tidak ada yang dilakukan untuk mereka. Daerah sana masih saja seperti ini. Padahal yang ada di sana tidak salah apa-apa.

        1. iya gar padahal pernah baca ada program khusus buat mereka tapi realisasi di lapangannya nih yang gak jelas terusannya…

          salam
          /kayka

          1. Ups, itu masalah klasik sekali di negeri ini. Entah ya, mungkin masih banyak aparat yang kepeduliannya masih kurang.

    1. udah lama lho mas datuk tempat ini jadi tempat wisata… tapi lebih populer di luar daripada di negeri sendiri…

      salam
      /kayka

  4. Melihat rumah yang ditopang bambu itu miris. Air butek begitu, waduh…
    Tahun 1999 saya pernah lihat pelabuhan ini. Waktu itu saya dari Pelabuhan Pontianak naik kapal cepat dan berlabuh di Sunda Kelapa ini. Sekarang kapal cepat itu sudah tamat riwayatnya, kalah bersaing dengan pesawat terbang. Namanya kapal cepat tapi perjalanan Pontianak ke Jakarta memakan waktu hampir 24 jam, πŸ™‚

    1. kombinasi yang gimana gitu ya uda…

      kalo kapal penumpang bukannya ke Tj. Priuk ya da?
      iya kalau lebih cepat dan harganya juga ok pasti orang milih yang perjalanannya tidak memakan waktu ya.

      soal lama ini kalo kapal barang ke Kalimantan bisa tiga hari tiga malam katanya uda…

      salam
      /kayka

  5. Hhmmm malu dan sedih deh melihat begitu lusuhnya negara kita yah Mba 😦
    Semoga pemerintah bisa melihat dan segera disejahterakan.
    Btw sampai kapan Mba di Indonesia?

  6. 4 tahun lalu suami dan aku ke Pelabuhan Sunda Kelapa juga mbak Kay, aku ga suka sama kumpulan tukang ojek dan kuli pelabuhannya krn teriakin bule ke suami. Suamiku potretin sampah dan pemandangan yg serba kotor, aku jadi malu sama keadaan disana πŸ˜€ .

    1. aih sebel ya kalau ada yang teriak-teriak bule begini. untungnya waktu kita kesana gak ada yang ngisengin mbak nela.

      kekotoran memang gak ada sedap-sedapnya untuk dilihat. kesannya orang kita gak tau kebersihan banget ya…

      salam
      /kayka

Please feel free to share your thoughts.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s