Diposkan pada Random Thoughts

sebuah persahabatan

„Halt dich an mir fest!“ („pegangan yang kuat ya!“)
„Halt dich an mir fest!“ („pegangan yang kuat ya!“)

„Hallo, willst du mein Freund sein?“ – „Ja, aber nicht meiner Mama petzen. Die hat gesagt, ich darf nicht mit dir spielen.“

„hallo, mau gak jadi teman saya?“ – „mau, tapi jangan bilang2 nyokab ya. kata nyokab saya gak boleh main sama kamu“ :/

„Ich hab dich lieb!“
„Ich hab dich lieb!“

bagaimanakah dengan teman2 blogger? apakah anda termasuk golongan yang menentukan siapa saja yang boleh bermain dengan anak2 anda atau membiarkan anak2 anda mengembangkan kepribadiannya dan belajar menemukan sendiri teman2nya?

sumber: Bild.de (dari sebuah bonbin di cina)

Iklan

16 tanggapan untuk “sebuah persahabatan

  1. Teteh mah mereka mau berteman dengan siapa pun boleh, asal sopan.
    Ada peraturan penting yg harus dipatuhi, tidak boleh keluar kata2 yg berawalan “S” atau sebangsanya, kalau sudah diberitau dan masih terdengar, lebih baik ngga datang lagi ke rumah, dan temenan dekat.
    Kata2 umpatan itu sangat tabu di rumah teteh mah.

      1. itu lho mbak Kaykaaaa… duuhh ngga boleh nulis disini hehehe.. eta orang Jerman kalau sumpah serapah suka pake kata yg awalnya “S” …yg artinya kotoran.

        1. oalah itu toh teh. paham teh minimum sehari sekali mesti denger entah dimana.

          dikita ada anak marah2 bilang kata berawalan t udah pasti ortunya langsung disalahin, -eh gak diajar ya kamu dirumah ?

          salam
          /kyka

  2. Mungkin tidak sepenuhnya menentukan siapa saja yang boleh bermain dengan anak-anak, tetapi lebih kepada mengarahkan dengan siapa anak bergaul akrab. Lebih-lebih pada masa pra remaja dimana anak-anak masih mudah terbawa ke arah pergaulan yang “tidak sehat”.

    1. betul mas krn ortu dan masyarakat punya nilai2 sendiri mana yg bagus dan tidak.

      sebetulnya tema ini bukan tema yg tepat utk saya krn saya gak punya momongan sendiri. tapi disisi lain bisa jadi keuntungan krn berada diluar kotak justru membuat saya jadi bisa melihat hal ini dr kacamata agak berbeda.

      ilustrasi aja mas chris, si a dicap berandalan di sekolah. ortu teman2nya wanti2 si a jgn ditemenin nanti kamu ikut2 jadi brandalan juga. jadilah satu2 menjauhi si a dengan kata lain telah terjadi mobbing massal, gak hanya dari teman2nya tapi juga ortu teman2nya. padahal bisa jadi kebrandalan si a ini teriakan minta tolong tapi salah memilih cara mengungkapkannya. menjauhi si a gak membuat situasi si a menjadi lebih baik. orang2 spt a justru membutuhkan rangkulan lebih dari anak2 ‘normal’. tidak sedikit perasaan ditolak secara kolektif ini dibeberapa kasus berakhir tragis dengan terengutnya kehidupan anak2 dan remaja2 akibat penembakan massal oleh orang2 spt a.

      salam
      /kayka

      1. Ilustrasinya bagus, Mbak. Situasi seperti itu memang jadi serba salah ya. Apalagi rata-rata orang tua murid pastilah tidak kenal secara mendalam keadaan yang dialami si A tersebut. Justru di sinilah sebetulnya peran orang tua si A yang seharusnya lebih mengenal anaknya untuk bekerja sama dengan pihak sekolah untuk mencari solusi sehingga bisa meringankan “derita” si A itu. Tapi repotnya, justru kebanyakan orang tua sekarang malah tidak mengenal anaknya karena terlalu sibuk dengan urusan dan bisnisnya. Jadilah si anak yang menderita 😦

        1. serba salah memang ya mas. semua ada konsekuensinya. balik2 lagi prioritas.

          banyak yang bilang uang bukan segalanya. tapi faktanya tanpa uang juga gak bisa jalan. artinya uang penting tapi anak dan keluarga lebih penting lagi. uang abis bisa dicari lagi. keluarga ancur?

          salam
          /kayka

    1. Analoginya dengan kontrofersi pemberian imunisasi mbak. Ada bbrp org yg menolak imunisasi krn bbrp hal. Tp kita g bisa kan me-laminating anak2 kita bukan mb?

      Kalau makanan (didikan akhlak n moral) sudah diberikan, imunisasi (pencegahan) perlu juga untuk diberikan. Karena di luar, dmna kita tdk bisa mengawasi anak2 mereka aakan tetap bergaul dg siapa saja, berinteraksi dgn siapapun tnp sepengetahuan kita. Sdgkan ‘teman’ yg lebih bny berinteraksi n bergaul scr intens tentu sj harus dipilih krn lingkungan juga mempengaruhi pembentukan karakter anak.

      Wanti-wanti perlu tp tdk smpai dlm tindakan menyingkirkan mendeskritkan dan semacamnya.

      1. trims mbak indri analoginya 🙂 baru tau loh mbak ada yg gak mau anaknya diimunisasi.

        soal wanti2 saya paham mbak indri.

        tapi kalau kita berandai2 situasinya membuat harus berbentuk sebuah larangan tetap plus penjelasan kenapa gak boleh ini atau itunya kali ya. saya rasa lebih nempel daripada cuma berisi larangan2 tanpa penjelasan. dilarang2 gak jelas membuat si anak pada prakteknya jadi sering berbohong. maksudnya reaksi kitapun menentukan si anak mau bercerita dengan kita atau malah merasa nyaman bercerita dengan orang lain. alhasil orang lain lebih tau ‘rahasia’ si anak dari kita sendiri.

        salam
        /kayka

  3. Kalau nanti aku punya anak, ya mereka bebas main dengan siapa saja, supaya tahu pergaulan, dari situ nantinya mereka bisa melilih ada teman yang benar teman ada juga yang punya maksud lain ;).

    1. akur mbak nella 🙂

      menurut penting mengajar si anak sejak dini bereaksi, berargumentasi bersosialisasi dan berkomunikasi secara logis dan sehat dalam menyelesaikan masalah2 sesuai dengan umurnya. tidak agresif menggunakan otot. misal dia diperlakukan tidak adil atau ‘ditonjok’ temennya misalnya. si anak langsung mencari tau kenapa kamu spt itu? atau kenapa kamu nonjok saya? dst dst… atau kalau kepala anaknya kejedot dan anaknya nangis histeris jangan ngediemin anaknya pake cara ‘ngengetok’ itu lantai 🙂 hehehhe yg terakhir ngelantur jauh.

      it’s easy to say aber das ist meine Meinung…

      salam
      /kayka

Please feel free to share your thoughts.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s